Inspirasi dan Keteladanan Seorang Dr. Ach. Syaiful A’la

Stit Al Karimiyyah - 22 November 2017 M 12:47 WIB

Pesantren Nasyatul Mutaallimin Gapura Sumenep Madura adalah mula segala harapan tercipta. Keriangan sejak awal menginjakkan kaki di pesantren itu pada 2004 lalu, menjadi hari-hari terindah dalam perjalanan hidup saya. Saya ingat betul, pada hari pertama di pesantren, saya dengan seorang senior di sana diajak menonton permainan sepak bola santri di halaman madrasah ibtidaiyah milikik pesantren. Ada seorang santri dengan asyik memegang dan membaca kamus bahasa Inggris. Melihatnya, ada kesenangan dan keingin mendalam pada diri, untuk juga belajar. Bayangan saya waktu itu mengandaikan banyak hal. Saya tak ingat betul keseluruhan ingatan tentang kisah ini, hanya yang lekang dalam ingatan, keinginan untuk terus belajar seperti santri yang waktu itu saya tatap dengan sangat tajam keseriusannya belajar bahasa asing.

Kenangan awal lain yang tak mungkin saya lupakan adalah saat hari pertama di pesantren, lalu antre mandi dengan keriuhan obrolan dan guyonan teman-teman santri yang menyeruak hampir di sekeliling kamar mandi pesantren. Ada ketakbiasaan yang saya jumpai di rumah ketika di pesantren. Bayangkan, untuk mandi saja harus antre kadang sampai lebih setengah jam menunggu giliran mandi. Sementara di rumah langsung saja, suka-suka kapan hendak mandi. Kenangan ini bagi saya menjadi tak biasa, lantaran ada keharuan dan keriangan tersendiri berproses menjadi santri. Pengalaman pertama ini, menjadi ingatan yang sukar dilupa. Ada kerinduan yang kadang-kadang hadir, untuk mengulang setiap yang lalu pada pengalaman belajar di pesantren.

Menjadi santri Pesantren Nasyatul Mutaallimin adalah keberuntungan dan kerkah hidup yang teramat besar. Pesantren ini telah mendidik banyak hal dalam proses menjadi, yang selama ini saya jalani. Pesantren mengenalkan saya pada banyak hal dalam perjalan hidup. Saya tak dapat membayangkan, seandainya saja tak belajar di pesantren, mungkin sekadar menulis catatan sederahana ini saya tak bisa. Nasyatul Mutaallimin mengenalkan saya pada banyak hal, termasuk dunia kepenulisan. Perpustakaan pesantren adalah mula mengenal buku-buku bacaan dari yang ringan sampai yang berat. Buletin yang diterbitkan pesantren dan madrasah tempat saya belajar di sekolah formal, menjadi lahan belajar yang sangat mengasyikkan. Belum lagi kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh madrasah untuk mengasah kemampuan siswa mengembangkan kreativitasnya, termasuk dunia kepenulisan.

Pada paruh perjalanan belajar di madrasah aliyah, tepatnya kelas dua, semangat dalam diri tumbuh besar. Saya semakin sering membaca buku-buku di perpustakaan pesantren, juga di perpustakaan madrasah. Selain bacaan buku, ada juga majalah dan koran. Dulu di Radar Madura (Jawa Pos Group) ada kolom Dari Pesantren untuk Pembaca, yang penulisnya biasanya orang-orang pesantren. Saya suka membaca tulisan-tulisan di dalamnya. Keinginan untuk bisa menulis yang sejak kelas dua madrasah tsanawiyah pernah hadir, seketika muncul kembali. Pengenalan saya dengan buletin madrasah dan pesantren cukup kuat membentuk keinginan diri belajar menulis. Maka perjumpaan saya dengan tulisan-tulisan di Radar Madura, semakin meneguhkan keinginan pada masa lalu untuk belajar menulis. Singkatnya, ketertarikan saya pada dunia kepenulisan semakin menguat.

Salah seorang, yang tulisannya sering saya jumpai di Radar Madura adalah tulisan Ach. Syaiful A'la (Kiai Syaiful A'la). Alumni Pesantren Nasyatul Mutaallimin yang pada waktu itu sedang belajar di Strata Satu (S1) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya.

  • * *

Sebagai santri yang ingin bisa menulis, tentu kehadiran Ach. Syaiful Ala (untuk selanjutnya saya menyebut Cak Ala, meskipun sebenarnya saya lebih sering memanggil Pak Ala), yang tulisannya kerap saya baca menghadirkan inspirasi tersendiri. Kedekatan emosional, sebagai santri yang sama-sama (pernah) belajar di Pesantren Nasyatul Mutaallimin merupakan faktor yang sangat kuat, mengapa seorang Cak Ala menghadirkan inspirasi. Setidaknya waktu itu, saya berpikir sangat sederhana. Kalau ia yang sama-sama belajar di pesantren yang sama bisa menulis, mengapa saya tidak akan bisa. Pasti bisa. Lalu, saya ingin belajar secara langsung pada Cak Ala.

Jalan Tuhan mempertemukan saya secara langsung dengan Cak Ala. Singkatnya, saya berjumpa di pesantren saat Cak Ala liburan semester di kampusnya. Saya menemuinya, lalu menyampaikan secara langsung kehendak diri untuk belajar menulis. Keinginan ini disambut baik. Saya menyimak wejangan dan cerita-cerita kepenulisan yang disampaikannya pada saat itu. Lalu saya ditawari meresensi buku. Saya tentu sangat senang. Beberapa hari dari pertemuan tersebut, saya menerima pemberian buku yang dimintanya untuk diresensi. Judul bukunya, Tafsir al-Asas: Kandungan dan Rahasia di Balik Firman-Nya karya Drs. KH A. Busyro Karim, M.Si., terbitan Muara Progresif Surabaya.

Setelah selesai menulis resensi buku tersebut, hasilnya langsung saya berikan pada Cak Ala. Menunggu berminggu-minggu, belum ada kabar tentang nasib resensi itu. Saya semakin penasaran. Dada sesak dengan keingian resensi dapat dimuat di media. Sialnya, setelah menunggu lama masih saja belum ada kabar baik dari Surabaya. Akhirnya, setelah dibantu dieditkan oleh Cak Ala, nasib baik menghampiri tulisan resensi tersebut. Riang bukan main. Resensi pertama saya dimuat di NU Online dengan judul Menguak Rahasia Surat Fatihah (21 September 2009). Langsung saja saya print, lalu saya tempel di mading pesantren. Banyak ucapan selamat saya terima dari teman-teman santri. Rasanya melayang-layang, seperti terbang tak menginjakkan kaki di tanah. Apalagi mendengar kabar bakal dapat buku dari penerbit, senangnya bukan kepalang dapat buku gratis.

Berikutnya, saya diberikan alamat email media massa sama Cak Ala. Semangat menulis semakin menguat. Tulisan dengan judul Menelusuri Kiprah NU di Era Modern dimuat di Tablod Info Com Sumenep pada tahun 2009 (tanggal terbit atau edisinya tidak saya ingat dengan detail). Senang sekali dapat honor Rp 50.000,- dari tulisan tersebut. Kemudian, tulisan saya mulai dimuat di Radar Madura pada kolom Dari Pesantren untuk Pembaca. Judulnya, Membaca dan Menulis Pendewasaan Diri. Detail tanggal pemuatannya tidak sangat ingat dengan baik, waktu itu tahun 2009. Saya belum punya kebiasaan menulis arsip tulisan yang dimuat di media. Tulisan lain yang dimuat dan tanggalnya saya catatat adalah Ancaman Gagalnya Demokratisasi Pemilukada (Radar Madura, 1 Mei 2010).

Waktu itu, saya semakin giat menulis. Sampai sekarang saya juga terus belajar menulis. Cak Ala adalah salah seorang, yang memiliki peran sangat besar dalam prores belajar menulis yang saya jalani. Ketekunan dan semangat menulisnya senantiasa menghadirkan inspirasi pada diri. Salah satu pemberian buku, yang sampai sekarang saya simpan baik-baik adalah buku bunga rampai, Sarung dan Demokrasi: Dari NU untuk Peradaban Keindonesiaan (Khalista, 2008).

  • * *

Tak hanya belajar menulis. Perjumpaan saya dengan Cak Ala membuka banyak jalan dalam proses penting perjalanan kehidupan saya. Persahabatanlebih tepatnya proses belajar (berguru)saya pada Cak Ala, membuka jalan lain. Sebagai santri sekaligus siswa kelas akhir, tentu ada harapan untuk bisa melanjutkan ke pendidikan tinggi. Saya sadar, keluarga di kampung sulit untuk bisa membiayai pendidikan tinggi. Apalagi kuliah di kota besar seperti Surabaya. Biaya hidup sudah pasti serba mahal. Keterbatasan finansial yang ada pada diri, saya ceritakan pada Cak Ala. Sambutannya sangat luar biasa. Saya mendapatkan banyak ketercerahan darinya. Wejengan yang disampaikanya sangat menggugah. Semangat di dalam diri untuk belajar mandiri begitu kuat. Belum lagi, cerita-cerita perjuangannya belajar di Surabaya melawan keterbatasan finansial begitu menginspirasi.

Suatu ketika, pada saat Cak Ala berkunjung ke pesantren, saya dibawakan informasi Beasiswa Bidik Misi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Senang rasanya mendapatkan info beasiswa. Saya merasa lulusan sekolah tahun 2010 nasibnya sangat baik. Karena pertama kali beasiswa yang koutanya besar diberikan pada lulusan sekolah dari keluarga kurang mampu dan berprestasi di tahun itu. Meskipun beasiswa Bidik Misi sangat kompetitif. Saya mencoba mendaftar, barangkali nasib baik memihak diri saya. Saya rada-rada lupa, kalau tidak salah waktu itu berkas Beasiswa Bidik Misi, saya kirim bersama dengan teman-teman yang lain lewat pos ke alamat Cak Ala di Surabaya. Lalu saya bersama dengan teman-teman yang lain didaftarkan ke kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Pada saat tes seleksi masuk, saya bersama dengan teman-teman lain dari madrasah pesantren tempat saya nyanti, berangkat ke Surabaya. Sebagai santri yang sangat jarang melakukan perjalanan jarak jauh tentu ada kebingungan tersendiri. Cak Ala adalah orang yang mengarahkan perjalan saya bersama dengan teman-teman hingga sampai di kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya. Cak Ala menjemput kami dengan sepeda ontel dari arah selatan kampus. Senang rasanya mendapatkan sambutan hangat dari senior yang belajar di perantauan.

Setelah mengalami proses yang sangat panjang, saya diterima sebagai cadangan pemerima Beasiswa Bidik Misi, paling buntut lagi. Lalu proses lebih berat lagi, berliku-liku, tanjak-menanjak, tikungan besar, hingga turunan yang terjal terus saya jalani, akhirnya saya menemukan jalan tanjakan untuk naik kembali, karena penerima cadangan di atas saya, tidak jadi datang melakukan herrigistrasi, hingga akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa Beasiswa Bidik Misi pada Jurusan Akidah Filsafat Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya. Pencapaain yang saya dapatkan, menjadi mahasiswa di IAIN Sunan Ampel Surabaya merupakan proses panjang yang tidak sederhana. Saya menyebut pencapaian, karena diterima sebagai mahasiswa lewat jalur beasiswa penuh merupakah anugerah yang teramat besar. Saya sadar betul, kondisi keuangan keluarga tak memungkinkan untuk mengkuliahkan saya di Surabaya. Cak Ala adalah salah seorang yang memiliki peran besar dalam proses pencapaian ini. Bantuannya, dari memberikan informasi beasiswa, membantu mengurus pendafatrannya, hingga memberikan tempat tinggal di Surabaya selama proses perjuangan mendapatkan beasiswa tersebut, merupakan sesuaatu yang tidak akan pernah saya lupakan sepanjang hidup saya.

Banyak hutang pudi yang saya miliki pada kebaikan-kebaikannya, bukan hanya sebelum menjadi mahasiswa, namun juga setelah saya kuliah di Surabaya. Dari kekurangan uang karena beasiswa telat cair, lalu saya mendapatkan beberapa kali pinjaman dari Cak Ala, hingga seringkali mendapatkan traktiran makan gratis. Ketika keuangan menipis, saya kerap kali diajak makan bersama di kamarnya. Bukan suatu kebetulan, tapi kesengajaan. Saya tinggal di tempat yang sama dengan Cak Ala, yakni di Pesantren Luhur Al-Husana Surabaya. Sebagai santri yang pernah belajar di pesantren yang sama, tentu merupakan sesautu yang sangat baik, mengikuti jejak senior tetap belajar di pesantren. Apalagi sebelumnya, saya sudah diwanti-wanti agar tinggal di pesantren oleh kiai di pesantren saya yang dulu. Tentu, diri merasa semakin mantap nyanti lagi.

Kenangan lain, yang tak mungkin saya lupakan dari Cak Ala, adalah bantuannya memberikan pinjaman uang pada saya untuk membeli notebook. Pada tahun 2011 yang lalu, saya sangat ingin sekali memiliki komputer untuk alat belajar menulis. Sebab sebelumnya, saya merasa sangat kesulitan menulis. Beberapa kali pinjam pada senior untuk bisa menulis. Kadang juga ke warnet. Waktu itu saya sudah berencana ngeredit notebook di Bank Mini Syariah di kampus. Hanya tiba-tiba, orang tau di rumah menelpon kalau mendapatkan rejeki. Waktu itu saya mendapatkan kiriman 2 jutaan dari rumah. Harga notebook tahun 2010 kisaran 3 jutaan. Sisanya, saya pinjam dari Cak Ala. Akhirnya, saya bisa memiliki notebook dan belajar menulis semakin instens karena telah memiliki komputer sendiri.

  • * *

Cak Ala, dalam berbagai hal telah banyak membantu. Sebenarnya bukan hanya membantu, proses menjadi yang saya lakoni, sesungguhnya adalah bagian dari inspirasi dan keteladanan Cak Ala, selama berproses menjadi mahasiswa di kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya, yang kini sudah menjadi UIN. Saya ingat betul, bagaimana Cak Ala menginspirasi saya untuk memperkuat jaringan dengan orang-orang besar di kampus. Saya pun mulai belajar mendekati orang-orang penting di kampus, supaya bisa saling mengenal dan belajar banyak. Jaringan merupakan modal dasar, agar bisa terkoneksi ke bebagai tempat dan kesempatan.

Cak Ala, dalam berbagai hal telah banyak membantu. Sebenarnya bukan hanya membantu, proses menjadi yang saya lakoni, sesungguhnya adalah bagian dari inspirasi dan keteladanan Cak Ala, selama berproses menjadi mahasiswa di kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya, yang kini sudah menjadi UIN. Saya ingat betul, bagaimana Cak Ala menginspirasi saya untuk memperkuat jaringan dengan orang-orang besar di kampus. Saya pun mulai belajar mendekati orang-orang penting di kampus, supaya bisa saling mengenal dan belajar banyak. Jaringan merupakan modal dasar, agar bisa terkoneksi ke bebagai tempat dan kesempatan.

Surabaya, 18 November 2017